Rencana terbaru mengenai Pembangunan Mrt Ekstensi Ke Tangerang semakin konkret setelah PT MRT Jakarta bersama pemerintah daerah dan sejumlah pengembang mulai mematangkan koridor Kembangan–Balaraja. Jalur tersebut merupakan bagian dari pengembangan MRT Lintas Timur–Barat atau East–West Line yang dirancang memperluas konektivitas transportasi massal dari Jakarta menuju kawasan Tangerang dan Banten. Hingga September 2026, proyek Kembangan–Balaraja masih berada pada tahap studi dan persiapan, sehingga pembangunan fisik jalurnya belum dimulai.
Perkembangan penting terjadi pada 4 Februari 2026 ketika PT MRT Jakarta menandatangani nota kesepahaman dengan tujuh pengembang untuk melakukan penjajakan awal pengembangan Fase 2 Kembangan–Balaraja. Kerja sama tersebut menjadi dasar untuk kajian dan pertukaran data sebelum proyek dilanjutkan. Sementara itu, Pemerintah Kota Tangerang telah merencanakan kontribusi pembebasan lahan secara bertahap pada periode 2026–2029. Artinya, rencana MRT Jakarta menuju Tangerang kini tidak hanya menjadi wacana konektivitas, tetapi sudah memasuki proses persiapan lintas pemerintah dan pemangku kepentingan.
Pembangunan Mrt Ekstensi Ke Tangerang Lewat Kembangan Balaraja
Koridor yang sedang dipersiapkan adalah MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 ruas Kembangan–Balaraja. Kembangan berada di Jakarta Barat, sedangkan Balaraja berada di Kabupaten Tangerang, Banten. Koridor ini menjadi kelanjutan pengembangan jaringan MRT Timur–Barat yang lebih luas.
Dalam perkembangan Agustus 2026, rencana Kembangan–Balaraja disebut membentang sekitar 30 kilometer dan dirancang memiliki 14 stasiun serta satu depo di Balaraja. Namun, detail tersebut masih berada dalam konteks perencanaan dan studi sehingga dapat mengalami perubahan setelah kajian teknis dan pembiayaan diselesaikan.
Progres MRT Kembangan Balaraja Terbaru
Perkembangan terbaru menunjukkan fokus utama masih berada pada penyelesaian studi. Gubernur Banten Andra Soni pada 21 Agustus 2026 mengatakan pemerintah berharap studi mengenai proyek tersebut segera selesai. Kajian mencakup aspek kelembagaan, pembiayaan, dan berbagai komponen lain yang diperlukan sebelum proyek bergerak menuju tahap berikutnya.
Karena itu, perlu dibedakan antara pembangunan MRT East–West yang sudah mulai bergerak di wilayah Jakarta dan koridor Fase 2 menuju Balaraja. Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat pada Februari mengatakan pekerjaan jalur Timur–Barat di Jakarta dimulai pada 2026 dari paket di sekitar Thamrin menuju Senen, sementara Kembangan–Balaraja masih membutuhkan proses pengembangan tersendiri.
MRT Tangerang Belum Memasuki Konstruksi Fisik
Penandatanganan MoU pada Februari bukan berarti pembangunan rel dan stasiun Kembangan–Balaraja langsung dimulai. PT MRT Jakarta menjelaskan kesepakatan dengan tujuh pengembang merupakan penjajakan awal. Nota kesepahaman menjadi dasar koordinasi, diskusi, dan pertukaran data dalam pelaksanaan kajian.
Dengan demikian, progres MRT Kembangan Balaraja terbaru per September 2026 lebih tepat disebut tahap studi dan persiapan menuju pembangunan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menyampaikan harapan agar konstruksi dapat mulai dalam satu hingga dua tahun setelah kesepakatan Februari 2026, tetapi itu merupakan target, bukan tanggal konstruksi final yang telah ditetapkan.
Tujuh Pengembang Terlibat dalam Studi MRT Tangerang
PT MRT Jakarta menggandeng tujuh perusahaan pengembang dalam penjajakan Fase 2 Kembangan–Balaraja. Mereka adalah PT Serpong Cipta Kreasi atau Summarecon Serpong, PT Alam Sutera Realty Tbk, PT Lippo Karawaci, PT Paramount Enterprise International, PT Serpong Cipta Cahaya atau Summarecon Tangerang, PT Sinar Puspapersada, dan PT Metropolitan Karyadeka Development.
Keterlibatan pengembang berkaitan dengan potensi pengembangan kawasan yang terhubung transportasi massal dan konsep Transit-Oriented Development atau TOD. Meski demikian, MoU tersebut belum merupakan komitmen komersial pembangunan. Hasil kajian nantinya menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah kebijakan proyek selanjutnya.
Pemerintah Tangerang Siapkan Pembebasan Lahan
Pemerintah Kota Tangerang telah menyatakan dukungannya terhadap pengembangan MRT East–West Line. Salah satu bentuk dukungan yang direncanakan adalah kontribusi dalam proses pembebasan lahan secara bertahap pada periode 2026 hingga 2029 sesuai perencanaan yang disiapkan.
Persiapan tersebut penting karena koridor transportasi lintas daerah membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, Jakarta, Banten, dan pemerintah kabupaten/kota yang dilewati. Ekstensi MRT Jakarta menuju Tangerang juga perlu terhubung dengan jaringan transportasi lokal sehingga penumpang dapat berpindah moda dengan lebih mudah.
Kabupaten Tangerang Siapkan Tata Ruang

Persiapan tidak berhenti pada pembebasan lahan. Pemerintah Kabupaten Tangerang pada Agustus 2026 juga mempercepat revisi Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW untuk mengakomodasi rencana MRT Kembangan–Balaraja. Penyesuaian tata ruang diperlukan agar pembangunan infrastruktur nantinya mempunyai dasar perencanaan wilayah yang sesuai.
Pemkab Tangerang juga mempersiapkan integrasi antara MRT dan layanan Bus Rapid Transit atau BRT. Integrasi tersebut penting karena MRT tidak dapat menjangkau seluruh kawasan permukiman secara langsung. BRT dan moda pengumpan nantinya berpotensi menjadi penghubung antara stasiun dan kawasan di sekitarnya.
MRT Kembangan Balaraja Dirancang Sekitar 30 Kilometer
Informasi perencanaan terbaru menyebut koridor Kembangan–Balaraja mempunyai panjang sekitar 30 kilometer. Jalur direncanakan mempunyai 14 stasiun dengan satu depo di kawasan Balaraja. Koridor tersebut akan menghubungkan Jakarta Barat dengan kawasan Tangerang hingga Kabupaten Tangerang.
Rute final, lokasi setiap stasiun, metode konstruksi, kebutuhan lahan, dan skema pembiayaan masih bergantung pada penyelesaian kajian. Karena proyek belum masuk konstruksi fisik, detail perencanaan masih mungkin disesuaikan sebelum pemerintah menetapkan desain final.
Kapan MRT Tangerang Mulai Dibangun
Belum ada tanggal konstruksi final yang diumumkan untuk ruas Kembangan–Balaraja. Pada Februari 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan target agar pembangunan dapat dimulai dalam waktu sekitar satu sampai dua tahun. Dengan acuan tersebut, konstruksi diharapkan dapat bergerak sekitar 2027–2028 apabila studi, pendanaan, kelembagaan, lahan, dan tahapan administratif selesai sesuai rencana.
Namun, target tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai jadwal pasti. Pada Agustus 2026, pemerintah Banten masih menyebut proyek berada dalam proses studi mengenai kelembagaan dan pembiayaan. Dengan demikian, jadwal pembangunan tetap sangat bergantung pada hasil studi dan keputusan pemerintah berikutnya.
MRT ke Tangerang Selatan Juga Sedang Dikaji
Selain koridor Kembangan–Balaraja, terdapat rencana berbeda untuk memperpanjang MRT dari Lebak Bulus menuju kawasan Tangerang Selatan atau Serpong. Pada Juni 2026, Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan studi kelayakan rute interkoneksi tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2026. Selesainya studi tidak otomatis berarti konstruksi dapat dimulai pada 2027.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga menegaskan detail rute MRT menuju Tangerang Selatan belum dibuka kepada publik. Salah satu pertimbangannya adalah mencegah spekulasi dan praktik percaloan tanah yang dapat meningkatkan biaya proyek. Karena itu, rute Kembangan–Balaraja dan rencana Lebak Bulus–Serpong perlu dibedakan meskipun keduanya sama-sama berkaitan dengan perluasan MRT menuju wilayah Tangerang.
Dampak MRT bagi Mobilitas Jakarta dan Tangerang
Jika terealisasi, koridor Kembangan–Balaraja akan memperluas jangkauan angkutan massal berbasis rel ke kawasan barat Jakarta dan Banten. Pemerintah Kota Tangerang sendiri memasukkan dukungan pembangunan MRT East–West serta TOD dalam arah kebijakan transportasi periode 2025–2029.
Keberadaan jalur ini juga berpotensi memperkuat integrasi kawasan hunian, pusat bisnis, BRT, dan transportasi pengumpan di Tangerang. Namun, manfaat aktual seperti waktu perjalanan, kapasitas penumpang, tarif, dan lokasi stasiun baru dapat dinilai lebih akurat setelah desain final serta skema operasional ditetapkan.
Pembangunan Mrt Ekstensi Ke Tangerang terus bergerak melalui pengembangan MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 Kembangan–Balaraja. Hingga September 2026, ruas tersebut masih berada pada tahap studi dan persiapan. PT MRT Jakarta telah menandatangani MoU dengan tujuh pengembang, sedangkan pemerintah Banten dan pemerintah daerah Tangerang mulai mempersiapkan aspek tata ruang, lahan, kelembagaan, serta integrasi transportasi.
Rencana terkini menggambarkan jalur sekitar 30 kilometer dengan 14 stasiun dan satu depo di Balaraja, tetapi detail tersebut masih dapat berubah mengikuti hasil kajian. Target yang pernah disampaikan adalah konstruksi dapat mulai dalam satu sampai dua tahun sejak Februari 2026. Sampai ada keputusan final, perkembangan paling penting untuk dipantau adalah penyelesaian studi kelayakan, skema pendanaan, penetapan trase, serta pembebasan lahan.
FAQ
Apakah MRT akan diperpanjang sampai Tangerang?
Ya, terdapat rencana MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 dari Kembangan di Jakarta Barat menuju Balaraja di Kabupaten Tangerang. Proyek tersebut sedang melalui tahap studi dan persiapan.
Apakah MRT Kembangan Balaraja sudah dibangun?
Belum untuk ruas Kembangan–Balaraja. Hingga Agustus–September 2026, pemerintah masih membahas penyelesaian studi kelembagaan, pembiayaan, tata ruang, dan persiapan lainnya.
Berapa panjang MRT Kembangan Balaraja?
Rencana terbaru menyebut panjang koridor sekitar 30 kilometer, dengan rencana 14 stasiun dan satu depo di Balaraja. Detail final masih bergantung pada hasil kajian.
Kapan MRT ke Tangerang mulai dibangun?
Belum ada tanggal final. Gubernur DKI Jakarta pada Februari 2026 menargetkan pembangunan dapat dimulai dalam satu hingga dua tahun, tetapi realisasinya tetap bergantung pada penyelesaian studi, pendanaan, lahan, dan keputusan pemerintah.
Apakah MRT Tangerang dan MRT Tangerang Selatan sama?
Tidak sepenuhnya. Kembangan–Balaraja merupakan bagian Fase 2 MRT Lintas Timur–Barat, sementara rencana ekstensi dari Lebak Bulus menuju Serpong/Tangerang Selatan merupakan proyek interkoneksi lain yang juga masih dikaj












